Jumat, 26 Oktober 2018

“Kisah Getaran (Generasi Pecinta Al-Qur'an)”


“Kisah Getaran (Generasi Pecinta Al-Qur'an)”

Seperti langit yang bersinar cerah, seperti itulah warna hariku mengajakku bergegas meninggalkan rumah. Sambil mencari sandal baruku yang berwarna putih biru akupun sedikit terburu-buru karena dering kekhawatiran bapak telah memenuhi ruang telingaku.

            “Ayo nak, jangan lama-lama. Bapak nggak enak sama pak Ibrahim.”

            “Iya pak Atul minta maaf.”

Kemudian aku pun mulai mencari bayangan ibu yang sedari tadi tak terlihat. Dan ternyata setelah ku telusuri dalam setiap pandangan akupun menemukan ibu yang tengah meneteskan air mata di belakang pintu kamarnya.

            “Ibu, kenapa ibu menangis? bukankah ibu setuju dengan keinginanku.”

            “Ibu cuman nggak siap harus kehilangan satu-satunya cahaya di rumah ini.”

            Mendengar pengakuan ibu hatiku benar-benar luluh, ingin rasanya aku menangis agar ibu tahu jika aku sendiri juga tidak siap dengan perpisahan ini. Tapi akupun berusaha menghangatkan suasana itu sambil menahan banjir yang mungkin sudah meluap di hatiku.

            “Ibu nggak perlu merasa khawatir, layaknya matahari yang terus memancarkan cahayanya meski di kejauhan mata, maka sama Atulpun akan tetap selalu dekat dengan ibu walaupun seberapa jauh jarak yang memisahkan. Jika memang dengan mengikhlaskanku bisa memberikan jawaban dari setiap do’a ibu, maka keikhlasanlah obat yang akan menyulam rindu itu seerat mungkin bu. Jadi Atul mohon jangan sedih!” Ucapku meyakinkan sambil menghapus air mata yang membasahi pipi ibu.

Ibu pun sedikit memanjangakan mulutnya dan segera memelukku.

            “Berangkatlah nak! disana kamu akan menuai banyak ilmu, hanya satu pesan bapak jangan pernah menyia-nyiakan waktu penentu masa depanmu. Kami sebagai orang tua hanya bisa mendoakan kebaikanmu karena ingin melihat kamu lebih baik dari kami, jangan seperti ibu bapakmu yang tidak bisa membaca dan mengaji.” Nasehat bapak yang terekam dalam memoriku.

            Tidak lama kemudian mobil pak Ibrahim datang menjemputku. Akupun langsung mencium tangan kedua orang tuaku untuk meminta restu.

            Sesampai disana aku sangat senang ternyata pondok pesantren   الخيرياه   yang telah aku impikan jauh lebih baik dari apa yang aku bayangkan. Aku mengetahui pondok ini dari koran karena mampu mencetak generasi yang benar-benar ternilai.

            “Eh, kismin aku nggak mau kalau nanti aku sekamar sama kamu!” Ucap Sefil yang membuatku bingung.

            “Kismin? Maksud kamu miskin?”

            “Iya lah, emang mau apa lagi julukan buat kamu. Udah dekil, kismin nggak sadar diri lagi.”

            Mendengar kejujuran Sefil aku tak mampu berkata banyak, seperti Al-Insyirah cukup kulapangkan dada menerimanya.

            “He sini-sini! Kalian dapat kamar Khodijah.” Ucap Pak Ibrahim selaku ayah Sefil yang menunjukkan kamar.

            “Apa jadi aku satu kamar sama dia pa?”

            “Lah terus kenapa?”

            “Aku nggak mau pa, dia itu nggak sebanding sama aku.”    

            “Kamu jangan seperti itu Fil, kasihan Atul dia pasti ingin berteman denganmu.”

Diapun hanya terdiam membisu dan langsung menuju kamar meninggalkanku.

Sesampai di kamar, aku merasa senang melihat banyak teman. Sambil membawa barang-barangku akupun mengucapkan salam.

            “Assalamu’alaikum.”

            “Wa’alaikumsalam” Jawab mereka kompak.

            Kemudian aku mulai melangkah untuk mencoba berkenalan dengan mereka. Dan ternyata aku sudah melihat Sefil di kerumunan mereka yang terlihat sudah akrab.

            “Loh Sefil, kamu sudah disini ternyata?”

            “Iya, lo kan tadi lihat sendiri kalau gue udah jalan.”

            “Oh jadi ini Fil yang namanya Atul?” Ucap salah satu anak mengagetkanku.

            “Loh ternyata kalian sudah kenal saya.”

            “Jadi ini juga anak yang bapaknya jadi buruh tani di lahan ayahmu.” Cetus salah satu anak yang melanjutkan.

            “Iya lah, kan ayahku orang kaya, sedangkan dia anaknya orang nggak punya.”

            “Hahahahaha.” Ketawa mereka merendahkanku.

Menanggapi hal itu aku langsung berlari mencari kamar mandi sebagai tempat peluap rasa sedih yang melanda.

            Beberapa menit aku menangis, tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu dari seseorang yang terlihat kesakitan menahan perutnya.

            “Mbak yang di dalam masih lama kah? Cepetan dong mbak ini sudah sampai ujung!”

            Dengan refleksnya seperti tanda قل akupun langsung memberhentikan tangisku dan berlanjut mencuci muka agar tidak terlihat sembab.

            “Emmhh, maaf mbak kalau lama.”

            “Oh iya nggak masalah, aku juga minta maaf karena sudah teriak-teriak.”

            “Iya mbak nggak papa kok.” Jawabku singkat kemudian langsung kembali ke kamar.

            Dengan separuh hati memasuki kamar, aku mencoba tegar dihadapan mereka sambil sibuk menata barang di dalam loker, tetapi mereka tak memperdulikanku.

Setelah merapikan seluruh barang-barangku, akupun sudah mulai mengikuti kegiatan di pesantren. Tepat pada hari kamis malam jumat, aku bersama seluruh santri lainnya menyenandungkan shalawat dengan begitu giat, bahkan aku hampir ingin menangisi keadaanku yang mulai merasa rindu bapak ibu di rumah. Tapi perasaan itupun segera terbabat habis ketika ada anak yang berkenalan denganku.

            “Hey, kamu anak baru tadi kan yang di kamar mandi? Kenalin Aku Zahrah anak kamar Aisyah.”

            “Oh iya. Kalau saya Rif’atul ‘Ainiyah, panggil saja Atul dari kamar Khadijah.” Jawabku senang sambil menanggapi tangannya yang telah disodorkan.

            “Wah bersebelahan dong kamar kita. Kapan-kapan main ke kamarku ya aku tunggu!”

            Belom sempat aku menjawab ajakannya. Tiba-tiba suara anak umi (ibu nyai) yaitu Neng Wati sebagai pengurus dari kejauhan mata sudah mengangkat sapu lidi. Karena masih anak baru aku merasa keget dan takut melihatnya. Bagian punggungkupun tersentuh oleh sapu itu sedangkan Zahrah langsung menutupinya agar tak mengenaiku lagi.

            “Kalian itu bisa serius nggak. Kebiasaan buruk tinggalkan! sudah berkali-kali dinasehatin kalau sholawatan jangan suka ngobrol, hargai yang membaca.” Nada marah beliau yang menyadarkan kesalahanku.

            “Ini juga, selalu saja datang akhir. Mau masuk surga terakhir?” Lanjutnya yang melihat segerombolan kamarku yang datang terlambat beserta Sefil.

            “Ya nggak papa lah. Yang penting masuk surga.” Jawab Sefil spontan karena tidak tahu bahwa beliau anaknya umi.

            “Berani banget kamu bicara seperti itu.”

            Kenapa? lo kira gue takut."

            Semua pun melongok melihat sikap Sefil yang benar-benar tak ada rasa sopan santunnya. Tanpa berbasa-basi Neng watipun langsung menaikkan skala amarahnya dengan mengejar Sefil yang berlari sampai tertangkap untuk di beri hukuman, seketika itu lah dia sadar siapa neng Wati sebenarnya.

            “Afwan neng sebelumnya. Sefil tidak tahu kalau neng itu anaknya umi.”

            “Okey bisa diwajarin, tapi ingat kesopanan kepada siapapun harus kamu terapkan.”          

“InsyaAllah neng.” Jawabnya singkat.

Kemudian Nengpun kembali ke ndalem (rumah umi).

Sepulang kegiatan tersebut, aku sengaja bercerita bersama Zahrah sebagai ajang keakrabanku padanya. Akupun tidak merasa bosan bersamanya, bahkan aku terlarut suasana dan baru sadar jika jarum jam telah menunjukkan angka sepuluh.

“Ya sepertinya sudah saatnya balik nih Tul. Nanti mbak Jumi pasti patroli.”

“Gitu ya Rah. Yaudah yuk buruan!”

Dalam situasi itu aku mulai kebingungan mencari alas kakiku.

“Kenapa Tul?”

“Aduh sandalku hilang Rah.” Jawabku sedih.

“Ya sepertinya sandal kamu sudah punya kaki baru Tul."

“Maksud kamu, ada yang memakainya?"

“Ya seperti itulah, lebih tepatnya sih biasanya digasap.”

“Lah trus gimana dong Rah, sandal itu baru aku beli kemarin dengan uang tabunganku dan aku cuman punya satu.”

“Udah jangan negatif thinking dulu. Yuk naik aja ke punggungku!”

“Maksudnya kamu mau menggendong aku?”

“Udah biasa saja. Yang namanya teman itu harus bisa bersolidaritas.”

“Yaudah makasih banyak ya Rah.”

“Itu mah beres.”

Dan sesampai disana benar dugaan Zahrah,  tiba-tiba sandalku sudah mendarat di rak sandal. Aku juga sedikit kesal kepada penggasapnya karena telah mebuatku bingung. Tapi setelah kudapatkan sandalku kulupakan saja masalah itu.

Haripun terus berganti. Dengan penuh kekuasaannya sang Lail telah bergegas pulang, aroma pagi terlihat jelas melukiskan keindahannya, aku sangat bersyukur menikmati indahnya fajar dan masih diizinkan menghirup udara bersih sebebas mungkin.

Kini aku sudah merasa nyaman dan mulai terbiasa di pondok. Disini aku mengikuti program tahfidz yang ku mulai dari nol karena sebelumnya aku memang tidak mempunyai bekal apa-apa tapi dimulai dari sini aku yakin dengan niat baik dan kesungguhanku insyaAllah aku akan mendapatkan bekal suatu saat nanti.

Sayangnya yang jadi permasalahan hingga detik ini aku masih belom bisa berteman baik dengan teman sekamarku termasuk Sefil. Aku nggak tau kenapa, mereka selalu menganggapku rendah, seakan-akan kehadiranku memang tidak mereka inginkan. Namun dibalik itu, tuhan justru memberiku orang yang tepat. Berkat Zahrah aku justru sangat akrab dengan anak kamar Aisyah yang mau menerimaku apa adanya. Merekalah keluarga baruku yang membuatku bertahan.

Seperti fenomena di hari libur kali ini yang jatuh tepat setelah manisnya kamis. Aku berniat setelah berjamaah shubuh di mushola akan piket dan memanfaatkan waktu untuk bermuraja'ah di kamar. Dan setelah itu aku juga berniat bermain ke kamar Aisyah untuk ikut membaca novel bergantian, tapi arus kehidupanpun berbeda ketika aku mencoba menasehati Sefil yang tidur selepas shubuh.

            “Astaghfirullah Sefil, jangan tidur pagi nggak baik.

            “Ih apaan sih lo, berisik.”

            “Nanti kamu bisa dita’zir Fil. Buruan mandi terus piketin tugasmu.”

            “Aduh, kalau mau ceramah jangan  disini.” Jawabnya membentakku.

Dan tiba-tiba suara hentakan kakipun meramaikan lantai dua sekan-akan ada bahaya yang menyerang. Banyak anak yang bersimpang siur tergesa-gesa membersihkan kamar,  begitu juga anak kamar khodijah. Sedangkan aku justru sibuk mencari jawaban.

"Zahrah ini ada apa?" Tanyaku padanya yang kebetulan melewati kamarku.

"Ada umi naik ke atas mau memeriksa kebersihan."

“Kenapa diperiksa?”

“Ya biar tidak kotor Tul, kan biasanya pondok itu terkenal kotor dan umi nggak mau hal itu ada di pondok ini.”

“Wah bagus banget tuh Rah, jadi seperti ponpes adiwiyata nih.”

“Udah jangan bercanda ini darurat.”

Akupun segera kembali membangunkan Sefil.

"Sefil ada umi fil. Bangun!!"

Sefilpun tak meresponku karena dia fikir aku membohonginya. Dan akhirnya umi lah yang harus turun tangan dengan menyiram Sefil air segayung.

            “Apa-apaan ini?” Respon Sefil kaget.

            Kamu Sefil anak baru itu kan? Mau jadi perempuan apa kamu? ayo bangun! Libur bukan digunakan untuk bermalas-malasan. Masa muda itu gunakan sebaik mungkin, jangan sampai menyesal di kemudian hari."

            Maaf umi tapi saya sedang tidak enak badan.”

            “Selalu saja alasan sakit, ikut umi ke poskestren (pos kesehatan pesantren) biar diperiksa!”

            “Enggak perlu mi, bentar lagi juga sudah enakan kok.”

            “Kenapa menolak? Karena sakitmu itu kamu buat-buat? Sakitmu karena sering begadang main handpone kan? Sekarang mana handponenya? Kamu berikan atau umi yang akan menggeledahnya.” Ucap umi tegas.

            “Handpone apa mi? saya tidak tahu apa-apa.”

            “Cepat berikan!! Gara-gara setan kotak itu kamu selalu telat jamaah, jarang setoran, ngaji kitab sering tidur dan melanggar banyak aturan."

            Dengan tangan yang bergemetaran diapun memberikan handpone itu ke umi. Semua penghuni tiap kamarpun terlihat serius menyaksikan kejadian itu. Sedangkan umi justru langsung mengajakku turun.

            Ternyata diajaklah aku disebuah tempat yang banyak berbagai perabot rumah tangga.

            “Umi minta tolong kamu masak hari ini, Bu Sri juru masak disini lagi sakit.”

            “Maaf mi, bukannya menolak tapi Atul nggak jago masak.”

            “Umi nggak nyarik yang jago, tapi umi cari yang mau belajar.”

Akupun hanya menganggukan kepala dengan sedikit tersenyum tipis layaknya tarqiq. Entah kenapa rasanya aku sangat dekat dengan umi yang seakan-akan seperti ibu sendiri. Dan dari situlah aku belajar banyak hal dari umi.

Dalam proses menasak tiba-tiba datanglah Sefil dan gerombolannya yang mencari makanan dan kebetulan umi mengambil kecap di dalam.

“Wah tepat nih sudah matang.” Ucap Sefil sambil memingit ikan udang di dalam wajan.”

“Jangan dimakani udangnya saja, kasihan nanti yang belakangan nggak dapat!” Ucapku menasehati.

“Apaan sih, lah cuman ikan beginiannya aja kok.” Jawabnya pedas sambil meneruskan mengelupas kulit udang.”

“Iya nih Atul jangan pelit-pelit, nanti makam lo sempit.” Sahut Farsa salah satu teman segerombolannya yang melakukan adegan sama seperti Sefil.

Tidak lama kemudian datanglah umi yang menciduk mereka semua.

“Astaghfirullah kalian ini tau adab apa nggak? Datang-datang ngambil makanan, makannya berdiri, buang sampah sembarangan. Apa seperti itu ajaran Rasulullah?”

“Emhh, habisnya laper banget.” Jawab Sefil yang tetap melanjutkan.

“Kalian itu punya telinga nggak? Kalian itu santri apalagi santriwati akhlaknya itu harus dijaga!” Lanjut umi marah.

“Iya mi maaf.” Jawab mereka serentak.

“Yaudah sekarang kalian bantu umi masak saja.”

“Nggak ah. Kan itu pekerjaan santri miskin.” Jawab Sefil sombong.

“Iya ah, nanti kita bau bawang dong.” Tambah Farsa mendukung.

“Astaghfirullah. Umi tahu kalian berasal dari latar belakang yang berbeda. Tapi tujuan kalian itu sama-sama mencari ilmu. Kalian tahu santri dulu justru berlomba-lomba mencari pahala, sampai berebut membalikkan sandal umik, kalau lewat depan umik pada merunduk, beda dengan santri zaman sekarang yang luntur semua moralnya, ngakunya getaran (generasi pecinta Al-Qur’an) sikapnya menyimpang Al-Quran? Percuma kalau hafal banyak juz kalau sikapnya seperti itu. Kalian harus malu dengan santri yang berjuang demi kemerdekaan bangsa. kalian hanya generasi penikmat jangan biarkan semua tamat. Ayolah binasakan sifat ratu yang egois, tetaplah bersatu demi masa depan yang manis! Ingat derajat kita sama nggak ada yang lebih baik diantara kita, seperti dalam QS. Al-Hujurat:13.”

Baru saja mulut umi selesai membaca surat tersebut, tiba-tiba datanglah Zahrah sambil menggandeng anak kecil yang menangis. Pondok ini memang tidak hanya menerima santri dewasa, melainkan anak kecil juga ada, seperti Tasya yang masih berumur 5 tahun.

“Loh Si Kecil kenapa?” Tanya umi pada anak itu.

 “Nggak ada yang sayang sama Tasya, tadi dek Dita dijenguk mama dibeliin es krim, aku nggak di beliin gara-gara aku anak tiri.”

“Loh orang tua kamu berpisah, mama kandung kamu kemana?” Tanyaku kasihan.

“Kata papa mama sudah di Surga.” Jawabnya sambil menangis.

Mendengar curahan hatinya, umik pun langsung memeluknya hangat. Sedangkan aku dan yang lainnya turut menjatuhkan air mata.

 “Tasya nggak usah sedih, kita semua sayang kok sama Tasya.” Ucap Sefil yang kemudian ikut memeluk Tasya diikuti yang lainnya.

Dari situlah aku tersadar bahwa pelajaran kehidupanpun juga sangat diperlukan.

“Jadi bagaimana sudah tahu arti kehidupan yang sebenarnya, hidup adalah perjalanan. Menempuh setiap jalan yang telah ditentukan seperti lika-liku jalan yang mengajak kita selamat atau tamat, jadi bagaimana masih mau jadi santri yang menghabiskan waktu untuk membeda-bedakan dan bermusuhan?” Tanya umi logis.

“Kalau dengan bersatu kita maju, kenapa harus sendiri untuk jatuh?” Sahut Sefil yang kemudian langsung memelukku.

Aku sangat senang akhirnya aku bisa akrab dengan semuanya, bahkan seusai itu kami di traktir Sefil makan es krim bersama-sama. Sungguh karunia Tuhan yang tidak pernah ku kira. Syukron Allah.

...000...



12 komentar:

  1. Cerita yang sangat menginspirasi.
    Sukses selalu @ashasalsabila
    Says tunggu karya selanjutnya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya terimakasih @Farika Puspyta. Sabar ya untuk karya selanjutnya. :D

      Hapus
  2. Bagus banget karyanya. Aku suka karna Memotivasi sekali. Semangat terus @ashasalsabila semoga lebih baik lagi

    BalasHapus
  3. Ketika saya baca cerpen ini sebenarnya sih menarik akan tetapi warna tiap - tiap hurufnya membuat mata saya agak sedikit terganggu karena warna tulisannya mengandung sinar biru yang kuat jadi saran saya kalau background hitam gunakanlah warna font tulisan berwarna putih atau yang sekiranya enak untuk dipandang 😊

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya terimakasih atas sarannya,😊 saya akan berusaha memperbaikinya👌

      Hapus
  4. Nice ...sangat memotivasi sekali

    BalasHapus
  5. ceritanya sangat menyentuh dan menginspirasi, tetap berkarya selalu ya kak...

    BalasHapus
  6. Iya terima kasih @umu nusaibah kakak juga semangat berkarya ��

    BalasHapus
  7. Sukses terus...ceritanya baguuss...😊😊😊

    BalasHapus