“Kisah Getaran (Generasi Pecinta
Al-Qur'an)”
Seperti langit yang bersinar
cerah, seperti itulah warna hariku mengajakku bergegas meninggalkan rumah.
Sambil mencari sandal baruku yang berwarna putih biru akupun sedikit
terburu-buru karena dering kekhawatiran bapak telah memenuhi ruang telingaku.
“Ayo
nak, jangan lama-lama. Bapak nggak enak sama pak Ibrahim.”
“Iya
pak Atul minta maaf.”
Kemudian aku pun mulai mencari
bayangan ibu yang sedari tadi tak terlihat. Dan ternyata setelah ku telusuri
dalam setiap pandangan akupun menemukan ibu yang tengah meneteskan air mata di
belakang pintu kamarnya.
“Ibu,
kenapa ibu menangis? bukankah ibu setuju dengan keinginanku.”
“Ibu
cuman nggak siap harus kehilangan satu-satunya cahaya di rumah ini.”
Mendengar
pengakuan ibu hatiku benar-benar luluh, ingin rasanya aku menangis agar ibu
tahu jika aku sendiri juga tidak siap dengan perpisahan ini. Tapi akupun
berusaha menghangatkan suasana itu sambil menahan banjir yang mungkin sudah
meluap di hatiku.
“Ibu
nggak perlu merasa khawatir, layaknya matahari yang terus memancarkan cahayanya
meski di kejauhan mata, maka sama Atulpun akan tetap selalu dekat dengan ibu
walaupun seberapa jauh jarak yang memisahkan. Jika memang dengan
mengikhlaskanku bisa memberikan jawaban dari setiap do’a ibu, maka keikhlasanlah
obat yang akan menyulam rindu itu seerat mungkin bu. Jadi Atul mohon jangan
sedih!” Ucapku meyakinkan sambil menghapus air mata yang membasahi pipi ibu.
Ibu pun sedikit memanjangakan
mulutnya dan segera memelukku.
“Berangkatlah
nak! disana kamu akan menuai banyak ilmu, hanya satu pesan bapak jangan pernah
menyia-nyiakan waktu penentu masa depanmu. Kami sebagai orang tua hanya bisa
mendoakan kebaikanmu karena ingin melihat kamu lebih baik dari kami, jangan
seperti ibu bapakmu yang tidak bisa membaca dan mengaji.” Nasehat bapak yang
terekam dalam memoriku.
Tidak
lama kemudian mobil pak Ibrahim datang menjemputku. Akupun langsung mencium
tangan kedua orang tuaku untuk meminta restu.
Sesampai
disana aku sangat senang ternyata pondok pesantren الخيرياه yang telah aku impikan jauh lebih baik dari
apa yang aku bayangkan. Aku mengetahui pondok ini dari koran karena mampu mencetak
generasi yang benar-benar ternilai.
“Eh,
kismin aku nggak mau kalau nanti aku sekamar sama kamu!” Ucap Sefil yang
membuatku bingung.
“Kismin?
Maksud kamu miskin?”
“Iya
lah, emang mau apa lagi julukan buat kamu. Udah dekil, kismin nggak sadar diri
lagi.”
Mendengar
kejujuran Sefil aku tak mampu berkata banyak, seperti Al-Insyirah cukup
kulapangkan dada menerimanya.
“He
sini-sini! Kalian dapat kamar Khodijah.” Ucap Pak Ibrahim selaku ayah Sefil yang menunjukkan
kamar.
“Apa
jadi aku satu kamar sama dia pa?”
“Lah
terus kenapa?”
“Aku
nggak mau pa, dia itu nggak sebanding sama aku.”
“Kamu
jangan seperti itu Fil, kasihan Atul dia pasti ingin berteman denganmu.”
Diapun hanya terdiam membisu dan langsung
menuju kamar meninggalkanku.
Sesampai di kamar, aku merasa
senang melihat banyak teman. Sambil membawa barang-barangku akupun mengucapkan
salam.
“Assalamu’alaikum.”
“Wa’alaikumsalam”
Jawab mereka kompak.
Kemudian
aku mulai melangkah untuk mencoba berkenalan dengan mereka. Dan ternyata aku
sudah melihat Sefil di kerumunan mereka yang terlihat sudah akrab.
“Loh
Sefil, kamu sudah disini ternyata?”
“Iya,
lo kan tadi lihat sendiri kalau gue udah jalan.”
“Oh
jadi ini Fil yang namanya Atul?” Ucap salah satu anak mengagetkanku.
“Loh
ternyata kalian sudah kenal saya.”
“Jadi
ini juga anak yang bapaknya jadi buruh tani di lahan ayahmu.” Cetus salah satu
anak yang melanjutkan.
“Iya
lah, kan ayahku orang kaya, sedangkan dia anaknya orang nggak punya.”
“Hahahahaha.”
Ketawa mereka merendahkanku.
Menanggapi hal itu aku langsung
berlari mencari kamar mandi sebagai tempat peluap rasa sedih yang melanda.
Beberapa
menit aku menangis, tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu dari seseorang yang
terlihat kesakitan menahan perutnya.
“Mbak
yang di dalam masih lama kah? Cepetan dong mbak ini sudah sampai ujung!”
Dengan
refleksnya seperti tanda قل akupun langsung
memberhentikan tangisku dan berlanjut mencuci muka agar tidak terlihat sembab.
“Emmhh,
maaf mbak kalau lama.”
“Oh
iya nggak masalah, aku juga minta maaf karena sudah teriak-teriak.”
“Iya
mbak nggak papa kok.” Jawabku singkat kemudian langsung kembali ke kamar.
Dengan
separuh hati memasuki kamar, aku mencoba tegar dihadapan mereka sambil sibuk
menata barang di dalam loker, tetapi mereka tak memperdulikanku.
Setelah merapikan seluruh
barang-barangku, akupun sudah mulai mengikuti kegiatan di pesantren. Tepat pada
hari kamis malam jumat, aku bersama seluruh santri lainnya menyenandungkan
shalawat dengan begitu giat, bahkan aku hampir ingin menangisi keadaanku yang
mulai merasa rindu bapak ibu di rumah. Tapi perasaan itupun segera terbabat
habis ketika ada anak yang berkenalan denganku.
“Hey,
kamu anak baru tadi kan yang di kamar mandi? Kenalin Aku Zahrah anak kamar Aisyah.”
“Oh
iya. Kalau saya Rif’atul ‘Ainiyah, panggil saja Atul dari kamar Khadijah.”
Jawabku senang sambil menanggapi tangannya yang telah disodorkan.
“Wah
bersebelahan dong kamar kita. Kapan-kapan main ke kamarku ya aku tunggu!”
Belom
sempat aku menjawab ajakannya. Tiba-tiba suara anak umi (ibu nyai) yaitu Neng
Wati sebagai
pengurus dari kejauhan mata sudah
mengangkat sapu lidi. Karena masih anak baru aku merasa keget dan takut
melihatnya. Bagian punggungkupun tersentuh oleh sapu itu sedangkan Zahrah
langsung menutupinya agar tak mengenaiku lagi.
“Kalian
itu bisa serius nggak. Kebiasaan buruk tinggalkan! sudah berkali-kali
dinasehatin kalau sholawatan jangan suka ngobrol, hargai yang membaca.” Nada
marah beliau yang menyadarkan kesalahanku.
“Ini
juga, selalu saja datang akhir. Mau masuk surga terakhir?” Lanjutnya yang
melihat segerombolan kamarku yang datang terlambat beserta Sefil.
“Ya
nggak papa lah. Yang penting masuk surga.” Jawab Sefil spontan
karena tidak tahu bahwa beliau anaknya umi.
“Berani
banget kamu bicara seperti itu.”
“Kenapa?
lo kira gue takut."
Semua
pun melongok melihat sikap Sefil yang benar-benar tak ada
rasa sopan
santunnya.
Tanpa berbasa-basi Neng watipun langsung menaikkan skala amarahnya
dengan mengejar Sefil yang berlari sampai tertangkap untuk di beri hukuman, seketika
itu lah dia sadar siapa neng Wati sebenarnya.
“Afwan
neng sebelumnya. Sefil tidak tahu kalau neng itu anaknya umi.”
“Okey
bisa diwajarin, tapi ingat kesopanan kepada siapapun harus kamu terapkan.”
“InsyaAllah neng.” Jawabnya
singkat.
Kemudian Nengpun kembali ke
ndalem (rumah umi).
Sepulang kegiatan tersebut, aku
sengaja bercerita bersama Zahrah sebagai ajang keakrabanku padanya. Akupun
tidak merasa bosan bersamanya, bahkan aku terlarut suasana dan baru sadar jika
jarum jam telah menunjukkan angka sepuluh.
“Ya sepertinya sudah saatnya balik
nih Tul. Nanti mbak Jumi pasti patroli.”
“Gitu ya Rah. Yaudah yuk buruan!”
Dalam situasi itu aku mulai
kebingungan mencari alas kakiku.
“Kenapa Tul?”
“Aduh sandalku hilang Rah.” Jawabku
sedih.
“Ya sepertinya sandal kamu sudah
punya kaki baru Tul."
“Maksud kamu, ada yang memakainya?"
“Ya seperti itulah, lebih tepatnya
sih biasanya digasap.”
“Lah trus gimana dong Rah, sandal
itu baru aku beli kemarin dengan uang tabunganku dan aku cuman punya satu.”
“Udah jangan negatif thinking
dulu. Yuk naik aja ke punggungku!”
“Maksudnya kamu mau menggendong
aku?”
“Udah biasa saja. Yang namanya
teman itu harus bisa bersolidaritas.”
“Yaudah makasih banyak ya Rah.”
“Itu mah beres.”
Dan sesampai disana benar dugaan
Zahrah, tiba-tiba sandalku sudah
mendarat di rak sandal. Aku juga sedikit kesal kepada penggasapnya karena telah
mebuatku bingung. Tapi setelah kudapatkan sandalku kulupakan saja
masalah itu.
Haripun terus berganti. Dengan
penuh kekuasaannya sang Lail telah bergegas pulang, aroma pagi terlihat jelas
melukiskan keindahannya, aku sangat bersyukur menikmati
indahnya fajar dan masih diizinkan menghirup udara bersih sebebas
mungkin.
Kini aku
sudah merasa nyaman dan mulai terbiasa
di pondok. Disini aku mengikuti program tahfidz yang ku mulai dari nol karena
sebelumnya aku memang tidak mempunyai bekal apa-apa tapi dimulai
dari sini aku
yakin dengan niat baik dan kesungguhanku insyaAllah aku akan mendapatkan bekal suatu saat nanti.
Sayangnya
yang jadi permasalahan hingga detik ini aku masih belom bisa berteman baik
dengan teman sekamarku termasuk Sefil. Aku nggak tau kenapa, mereka selalu
menganggapku rendah, seakan-akan kehadiranku memang tidak mereka inginkan.
Namun dibalik itu, tuhan justru memberiku orang yang tepat. Berkat Zahrah aku
justru sangat akrab dengan anak kamar Aisyah yang mau menerimaku apa adanya.
Merekalah keluarga baruku yang membuatku bertahan.
Seperti fenomena di hari
libur kali ini yang jatuh tepat setelah manisnya kamis. Aku berniat setelah berjamaah shubuh di mushola akan
piket dan memanfaatkan waktu untuk bermuraja'ah di kamar. Dan setelah itu aku juga
berniat bermain ke kamar Aisyah untuk ikut membaca novel bergantian, tapi arus
kehidupanpun berbeda ketika aku mencoba menasehati Sefil yang tidur selepas
shubuh.
“Astaghfirullah
Sefil, jangan
tidur pagi nggak baik. ”
“Ih
apaan sih lo, berisik.”
“Nanti
kamu bisa dita’zir Fil. Buruan mandi terus piketin tugasmu.”
“Aduh,
kalau mau ceramah jangan disini.” Jawabnya membentakku.
Dan
tiba-tiba suara hentakan kakipun meramaikan lantai dua sekan-akan ada bahaya
yang menyerang. Banyak anak yang bersimpang siur tergesa-gesa membersihkan
kamar, begitu juga anak kamar khodijah.
Sedangkan aku justru sibuk mencari jawaban.
"Zahrah
ini ada apa?" Tanyaku padanya yang kebetulan melewati kamarku.
"Ada
umi naik ke atas mau memeriksa kebersihan."
“Kenapa
diperiksa?”
“Ya
biar tidak kotor Tul, kan biasanya pondok itu terkenal kotor dan umi nggak mau
hal itu ada di pondok ini.”
“Wah
bagus banget tuh Rah, jadi seperti ponpes adiwiyata nih.”
“Udah
jangan bercanda ini darurat.”
Akupun
segera kembali membangunkan Sefil.
"Sefil
ada umi fil. Bangun!!"
Sefilpun
tak meresponku karena dia fikir aku membohonginya. Dan akhirnya umi lah yang
harus turun tangan dengan menyiram Sefil air segayung.
“Apa-apaan
ini?” Respon Sefil kaget.
“Kamu Sefil
anak baru itu kan? Mau jadi perempuan apa kamu? ayo bangun! Libur bukan
digunakan untuk bermalas-malasan. Masa muda itu gunakan sebaik mungkin, jangan sampai menyesal
di kemudian hari."
“Maaf
umi tapi saya
sedang tidak enak badan.”
“Selalu
saja alasan sakit, ikut umi ke poskestren (pos kesehatan pesantren) biar diperiksa!”
“Enggak
perlu mi, bentar lagi
juga sudah enakan kok.”
“Kenapa
menolak? Karena sakitmu itu kamu
buat-buat? Sakitmu karena sering begadang main handpone kan? Sekarang mana handponenya? Kamu berikan atau
umi yang akan menggeledahnya.” Ucap umi
tegas.
“Handpone
apa mi? saya tidak tahu apa-apa.”
“Cepat
berikan!! Gara-gara setan kotak itu kamu selalu telat jamaah,
jarang setoran, ngaji kitab sering tidur dan melanggar banyak aturan."
Dengan
tangan yang bergemetaran diapun memberikan handpone itu ke umi. Semua penghuni
tiap kamarpun terlihat serius
menyaksikan kejadian itu. Sedangkan umi justru langsung mengajakku turun.
Ternyata
diajaklah aku disebuah tempat yang banyak berbagai perabot rumah tangga.
“Umi
minta tolong kamu masak hari ini, Bu Sri juru masak disini lagi sakit.”
“Maaf
mi, bukannya menolak tapi Atul nggak jago masak.”
“Umi
nggak nyarik yang jago, tapi umi cari yang mau belajar.”
Akupun hanya menganggukan kepala
dengan sedikit tersenyum tipis layaknya tarqiq. Entah kenapa rasanya aku sangat
dekat dengan umi yang seakan-akan seperti ibu sendiri. Dan dari situlah aku
belajar banyak hal dari umi.
Dalam proses menasak tiba-tiba
datanglah Sefil dan gerombolannya yang mencari makanan dan kebetulan umi mengambil
kecap di dalam.
“Wah tepat nih sudah matang.” Ucap
Sefil sambil memingit ikan udang di dalam wajan.”
“Jangan dimakani udangnya saja,
kasihan nanti yang belakangan nggak dapat!” Ucapku menasehati.
“Apaan sih, lah cuman ikan
beginiannya aja kok.” Jawabnya pedas sambil meneruskan mengelupas kulit udang.”
“Iya nih Atul jangan pelit-pelit,
nanti makam lo sempit.” Sahut Farsa salah satu teman segerombolannya yang
melakukan adegan sama seperti Sefil.
Tidak lama kemudian datanglah umi
yang menciduk mereka semua.
“Astaghfirullah kalian ini tau
adab apa nggak? Datang-datang ngambil makanan, makannya berdiri, buang sampah
sembarangan. Apa seperti itu ajaran Rasulullah?”
“Emhh, habisnya laper banget.”
Jawab Sefil yang tetap melanjutkan.
“Kalian itu punya telinga nggak?
Kalian itu santri apalagi santriwati akhlaknya itu harus dijaga!” Lanjut umi
marah.
“Iya mi maaf.” Jawab mereka
serentak.
“Yaudah sekarang kalian bantu umi
masak saja.”
“Nggak ah. Kan itu pekerjaan
santri miskin.” Jawab Sefil sombong.
“Iya ah, nanti kita bau bawang
dong.” Tambah Farsa mendukung.
“Astaghfirullah. Umi tahu kalian
berasal dari latar belakang yang berbeda. Tapi tujuan kalian itu sama-sama
mencari ilmu. Kalian tahu santri dulu justru berlomba-lomba mencari pahala,
sampai berebut membalikkan sandal umik, kalau lewat depan umik pada merunduk,
beda dengan santri zaman sekarang yang luntur semua moralnya, ngakunya getaran
(generasi pecinta Al-Qur’an) sikapnya menyimpang Al-Quran? Percuma kalau hafal
banyak juz kalau sikapnya seperti itu. Kalian harus malu dengan santri yang berjuang
demi kemerdekaan bangsa. kalian hanya generasi penikmat jangan biarkan semua
tamat. Ayolah binasakan sifat ratu yang egois, tetaplah bersatu demi masa depan
yang manis! Ingat derajat kita sama nggak ada yang lebih baik diantara kita,
seperti dalam QS. Al-Hujurat:13.”
Baru saja mulut umi selesai
membaca surat tersebut, tiba-tiba datanglah Zahrah sambil menggandeng anak
kecil yang menangis. Pondok ini memang tidak hanya menerima santri dewasa,
melainkan anak kecil juga ada, seperti Tasya yang masih berumur 5 tahun.
“Loh Si Kecil kenapa?” Tanya umi
pada anak itu.
“Nggak ada yang sayang sama Tasya, tadi dek
Dita dijenguk mama dibeliin es krim, aku nggak di beliin gara-gara aku anak
tiri.”
“Loh orang tua kamu berpisah, mama
kandung kamu kemana?” Tanyaku kasihan.
“Kata papa mama sudah di Surga.”
Jawabnya sambil menangis.
Mendengar curahan hatinya, umik
pun langsung memeluknya hangat. Sedangkan aku dan yang lainnya turut
menjatuhkan air mata.
“Tasya nggak usah sedih, kita semua sayang kok
sama Tasya.” Ucap Sefil yang kemudian ikut memeluk Tasya diikuti yang lainnya.
Dari situlah aku tersadar bahwa
pelajaran kehidupanpun juga sangat diperlukan.
“Jadi bagaimana sudah tahu arti
kehidupan yang sebenarnya, hidup adalah perjalanan. Menempuh setiap jalan yang
telah ditentukan seperti lika-liku jalan yang mengajak kita selamat atau tamat,
jadi bagaimana masih mau jadi santri yang menghabiskan waktu untuk
membeda-bedakan dan bermusuhan?” Tanya umi logis.
“Kalau dengan bersatu kita maju,
kenapa harus sendiri untuk jatuh?” Sahut Sefil yang kemudian langsung
memelukku.
Aku sangat senang akhirnya aku
bisa akrab dengan semuanya, bahkan seusai itu kami di traktir Sefil makan es
krim bersama-sama. Sungguh karunia Tuhan yang tidak pernah ku kira. Syukron
Allah.
...000...
Cerita yang sangat menginspirasi.
BalasHapusSukses selalu @ashasalsabila
Says tunggu karya selanjutnya.
iya terimakasih @Farika Puspyta. Sabar ya untuk karya selanjutnya. :D
HapusBagus banget karyanya. Aku suka karna Memotivasi sekali. Semangat terus @ashasalsabila semoga lebih baik lagi
BalasHapusiya terimakasih atas semangatnya @unknown
HapusKetika saya baca cerpen ini sebenarnya sih menarik akan tetapi warna tiap - tiap hurufnya membuat mata saya agak sedikit terganggu karena warna tulisannya mengandung sinar biru yang kuat jadi saran saya kalau background hitam gunakanlah warna font tulisan berwarna putih atau yang sekiranya enak untuk dipandang 😊
BalasHapusIya terimakasih atas sarannya,😊 saya akan berusaha memperbaikinya👌
HapusNice ...sangat memotivasi sekali
BalasHapusiya trimakasih @Aflah Arten.
Hapusceritanya sangat menyentuh dan menginspirasi, tetap berkarya selalu ya kak...
BalasHapusIya terima kasih @umu nusaibah kakak juga semangat berkarya ��
BalasHapusSukses terus...ceritanya baguuss...😊😊😊
BalasHapusiya terimakasih :D
BalasHapus